Jumat, 04 Maret 2011

The Map is Not Territory

Dalam sebuah pelatihan, ada seorang peserta yang menceritakan kepada saya tentang perasaannya yang merasa seperti hidup sendiri, di saat banyak masalah semua orang terdekatnya justru malah menjauh.

Sebuah cerita yang menarik menurut saya, dan cerita seperti ini tentunya tidak hanya dirasakan oleh orang tersebut. Saya yakin di luar sana juga banyak orang yang akan berkomentar seperti itu disaat sedang sendiri dan mengalami masalah. Didalam NLP (Neuro-Linguistic Programming) kita akan belajar tentang struktur dan konten. Dan melalui tulisan ini secara bertahap kita akan mendiskusikan bagaimana cara membedakan struktur dan konten ini, sehingga memudahkan bagi kita dalam menganalisa sekaligus menyikapi berbagai hal yang mungkin mengganggu pikiran kita dalam keseharian.

Salah satu presuposisi (pra-anggapan) dalam NLP adalah The Map is not the Territory. Peta bukanlah wilayah sesungguhnya. Kembali kepada cerita diatas, apa yang di katakan oleh peserta tersebut telah menginformasikan kepada kita bahwa seolah-olah dia hidup sendiri, seolah-olah hanya dia yang punya masalah, seolah-olah semua orang tidak perduli dengan dirinya terbukti dia merasa semua orang menjauh dari kehidupannya.

Pertanyaannya sekarang adalah, apakah benar dia hidup sendiri, apakah benar hanya dia yang punya masalah, apakah benar semua orang menjauh. Apakah ini adalah persepsinya yang sesuai dengan realita sesungguhnya atau ini adalah caranya menterjemahkan sebuah realita yang justru bukan sesungguhnya?

Ahaa...! sepertinya sekarang anda sudah mulai bisa mengenali perbedaannya. Benar sekali, apa yang di katakan nya hanyalah sebuah persepsi yang bukan realita sesungguhnya. Dalam mengelola informasi yang datang dari luar, seseorang dapat menterjemahkan di pikirannya dengan caranya masing-masing.
Keterbatasannya dalam memahami sebuah peristiwa membuat seseorang jadi mudah membuat sebuah kesimpulan yang tidak tepat, dikatakan tidak tepat karena kesimpulan itu sudah di generalisasi, dihilangkan dan dihapus dari peristiwa yang sesungguhnya.

Keterbatasan mengelola sebuah informasi inilah yang menyebabkan seseorang kemudian menjadi berdaya atau bahkan tidak berdaya. Jika di hubungkan pada cerita di atas, karena keterbatasannya tersebut ia menjadi tidak berdaya dalam  mengelola emosinya sehingga ia mengambil kesimpulan bahwa ia sendiri menghadapi masalah. Woooww.... ternyata mengelola informasi yang datang dari luar secara tidak tepat mampu merubah prilaku seseorang, luar biasa banget ya?!!

Ok, sekarang kita bisa mulai melanjutkan membicarakan tentang bagaimana mengelola struktur dan konten secara tepat. masih mengambil contoh cerita di atas, Bahwa dia punya masalah, itu adalah benar dan tidak bisa di hilangkan atau di hapus. Contoh detail, seorang anak tinggal kelas. Kenyataan bahwa anak itu tidak naik kelas adalah benar dan tidak bisa dirubah atau di hapus, kenyataan anak itu tidak naik kelas adalah konten atau isi. Lalu bagaimana cara kita menerjemahkan adalah struktur atau bungkusnya atau kemasannya.
Kita mungkin sering membeli obat batuk, membaca komposisi atau isinya dan fungsinya adalah sama sebagai pereda batuk, tapi merek dan kemasannya hampir bisa dipastikan berbeda-beda.

Merubah struktur dengan mengambil hikmah positif dari anak yang tidak naik kelas adalah memberikan pengertian kepada anak dan orang tua bahwa masih ada kesempatan memperdalam beberapa mata pelajaran yang tertinggal, meningkatkan komunikasi yang kurang lancar, kehilangan waktu 1 tahun lebih baik dibandingkan kehilangan kesempatan berkomunikasi yang sehat di dalam keluarga. 

Ok, kembali ke presuposisi The Map is Not The Territory ini, sekarang anda pasti sudah lebih memahami perbedaannya. Mengambil makna positif dari sebuah peristiwa adalah sebuah proses internal control yang memberdayakan diri sendiri. Sementara mengambil sikap merasa sendiri dan marah-marah yang tidak karuan ke anak bahkan sibuk mencari-cari kesalahan, adalah sebuah internal control yang justru membat seseorang menjadi tidak berdaya. 

Tidak ada komentar: